Meningkatkan Kewaspadaan untuk Menjaga Keselamatan Murid

Meningkatkan Kewaspadaan untuk Menjaga Keselamatan Murid

Zoom pada hari Rabu, 27 Agustus 2025
Narsum: Kasudin JT1 l, Bapak M.Fahmi.

Suasana di zoom tampak serius dan peserta antusias menyimak narasumber.

Pada 28 Agustus 2025, Badan Intelijen menginformasikan bahwa sembilan siswa dari salah satu sekolah di Jakarta terindikasi terlibat dalam sebuah insiden.

Sebagian dari mereka telah dibebaskan, namun sebagian lainnya masih ditahan. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk meningkatkan pengawasan secara maksimal, khususnya menjelang tanggal 30 Agustus 2025.

 

Keselamatan adalah segalanya. Kewajiban para siswa adalah belajar dan mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) sebagai pelajar. Namun, hak mereka untuk meraih masa depan dapat terancam oleh tindakan anarkis yang tidak terkontrol.

Kita tidak bisa menoleransi aksi anarkis dan perusakan, karena hal itu bisa menyebabkan kekacauan dan membuat siswa menjadi korban yang tidak mengerti esensi dari keterlibatannya.

Murid yang baik kerap menjadi korban jika berada di lingkaran demo atau kerumunan yang tidak jelas.

Strategi Pengawasan dan Komunikasi Intensif
Untuk mencegah kejadian serupa, kita harus mengimplementasikan komunikasi yang intensif dengan berbagai pihak:

1. Grup WhatsApp (WAG) Orang Tua: Pastikan grup komunikasi dengan para orang tua siswa tetap aktif. Jika siswa tidak hadir di sekolah, segera menghubungi orang tuanya untuk memastikan keberadaan murid. Meskipun anak-anak aman saat berada di sekolah, titik paling rawan adalah saat pulang sekolah. Ya saya juga setuju. hehehe

2. Peran Wali Kelas, harus proaktif dan komunikatif dengan orang tua. Pastikan siswa telah tiba di rumah dengan selamat, aman Sentosa dan menanyakan keberadaan mereka.

3. Wakil kesiswaan perlu mengajak siswa untuk berkomunikasi secara intensif. Jelaskan bahwa tindakan anarkis tidak bisa ditoleransi, dan hak-hak siswa akan kalah dengan kewajiban mereka untuk menjaga ketertiban.Kolaborasi dengan Guru BK

4. Tetap tersenyum menuy\]ikapi semua informasi atau kebijakan untuk menyelamatkan anak-anak bangsa sebagai generasi penerus yang tidak kalah pentingnya dalam mengisi kemerdekaan.

Siswa sebagai Subjek Pembelajaran, Bukan Aksi Anarkis
Siswa adalah anak-anak yang telah dipercayakan kepada oleh orang tua/ wali kita untuk belajar, menerima transfer knowledge dan transfer skill. Kepla sekolah, pendidik, tenaga Kependidikan dan Orang tua harus melindungi mereka dari situasi sulit yang tidak bisa diantisipasi, seperti terjebak dalam peristiwa yang dipicu oleh solidaritas antara senior dan junior. Seseuatu yang klasik dari tahun ke tahun.

Ada kasus di mana seorang kakak mencari adiknya ke Polda dan menemukan bahwa adiknya juga terlibat.

Kejadian ini menjadi pelajaran bahwa kita tidak boleh membiarkan anak-anak terlibat dalam perlawanan anarkis. Mereka adalah anak-anak baik yang bisa saja terjebak dalam situasi berbahaya walau terkadang toleransi berteman dianggap sebagai kekuatan untuk terlibat dalam aksi demo.

Mari bersama-sama mengingatkan dan memastikan setiap siswa sampai di rumah dengan selamat.

Tanggung jawab kita adalah menjaga mereka hingga mereka dapat meraih masa depan sesuai dengan cita-cita mereka.

Mari berkolaborasi Bapak dan Ibu untuk membangun komunikasi dalam memastikan siswa sudah di rumah dengan aman dan tenang.

Posted in news.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *